Daya Saing Unik

 

(Filograph/Getty Images)

 

Unik selalu memikat. Ketika berada di tengah ragam pilihan yang cenderung homogen, sesuatu yang berbeda cenderung mengundang perhatian. Keunikan ibarat sebuah pesan provokatif yang merayu keinginan untuk mengenalnya lebih dekat. Atau, paling tidak, keunikan itu telah menempatkan sebuah kesan dalam hati mereka yang terpikat.

Dalam bisnis keunikan atau ciri khas menjadi sangat penting. Ia merupakan identitas yang membedakan sebuah produk dengan lainnya. Meskipun ciri khas yang sulit ditiru oleh orang lain (pesaing) masih menjadi faktor krusial untuk memenangkan persaingan.

Hal inilah yang menjadi inti penyampaian Ketua Umum Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) Anang Sukandar dalam acara Info Franchise dan Business Concept Expo 2013 pekan lalu di Kartika Expo Hall Balai Kartini, Jakarta.

Dalam acara yang diikuti oleh sejumlah pelaku bisnis waralaba dan peluang usaha itu, selanjutnya Ketua AFI mengungkapkan, konsep pelayanan seperti pesan – antar dan waktu buka 24 jam, bukanlah sebuah keunikan. Sebab, konsep itu merupakan ekstensifikasi atau improvisasi servis kepada pelanggan.

Ciri khas usaha yang dimaksudkan disini lebih menyerupai upaya inovasi dan teknologinya. Ketepatan mengaplikasikan kedua unsur itu akan memberikan nilai tambah (added value) terhadap hasil produksi. Adanya nilai tambah inilah yang kemudian dianggap sebagai opsi paling menguntungkan bagi pasar yang semakin kritis.

Sebagai contoh, Anang mengungkapkan sebuah waralaba cuci busana (laundry) yang berhasil menerapkan teknologi penyemprot busa dalam proses pencucian. Teknologi ini bisa mempersingkat waktu pencucian dan pengeringan sehingga pelanggan tak mesti menunggu lama. Tentunya orang akan memilih binatu ini di antara binatu lain yang tidak menggunakan teknologi tersebut, walaupun hasil cucinya sama.

Faktor persaingan yang kian menajam dalam bisnis waralaba dan peluang usaha memang seharusnya menjadi konsentrasi pelakunya. Kreatifitas melahirkan inovasi yang menambah keunggulan produk merupakaan sebuah keharusan. Terlebih menjelang dibukanya pasar bebas ASEAN yang membuka pintu seluas-luasnya bagi masuknya barang dan jasa di antara sesama negara anggota. Artinya, regulasi dan proteksi pemerintah suatu negara terhadap produksi dalam negerinya akan berangsur lenyap. Mati hidupnya usaha sepenuhnya diserahkan kepada pasar.

Maka penataan manajemen yang lebih mumpuni juga diperlukan untuk mengiringi upaya peningkatan daya saing itu sendiri. Pembagian sistem pengelolaan berdasarkan klasifikasi kegiatan seperti, distribusi, pemasaran, operasional  dan sebagainya harus semakin fokus dan meningkatkan kinerjanya. Sayangnya belum banyak pemilik waralaba lokal yang menerapkan hal ini dalam pengelolalan rantai bisnisnya.

Berbeda dengan waralaba asing yang telah memiliki merek mapan. Rata-rata mereka memiliki manajemen yang sistematis dan terukur.

Pada prinsipnya waralaba adalah bisnis jaringan. Oleh sebab itu hubungan komunikasi antara prinsipal dan waralabanya juga mesti terkelola baik. Dengan demikian, setiap masalah yang timbul bisa lebih dini terdeteksi untuk segera dilakukakan antisipasinya.

Anda berminat?

[HaryoGRN]

Related posts:

Mengolah Hobi Menjadi Peluang Usaha
Bisnis via Media Sosial (2)
Investasi Imitasi

1 Comment

Leave a Comment