Global tapi Lokal
- By ikitommy
- 21 January, 2013
- No Comments
Berpikir global, berperilaku lokal. Sebuah frase kondang yang digunakan di hampir setiap sisi kehidupan. Frase ini merupakan motivasi yang mengiringi perubahan globalisasi dunia sejak ditemukannya internet yang serta merta menghapus batas-batas geografis dalam teknologi komunikasi dan informasi. Peleburan blok-blok perdagangan regional dan regulasi kebijakan tata niaga ekspor-impor internasional yang menyusul kemudian semakin membuat batas wilayah sebuah negara tampak semu kecuali hanya legitimasi kedaulatan semata.
Berbanding terbalik dengan evolusi alamiah, globalisasi berlangsung begitu cepat. Akibatnya banyak negara yang pontang-panting mempersiapkan diri. Akibatnya, krisis ekonomi dan keuangan melanda mereka yang lengah dan lamban mengantisipasi arus perubahan itu. Tak peduli apakah itu negara ekonomi kuat atau lemah, termasuk Indonesia. Perlu waktu belasan tahun untuk bisa mulai merangkak kembali dari kelumpuhan sejak negeri ini dihantam krisis tahun 1997.
Sebagai sebuah motivasi, frase itu mengajak siapa saja untuk mengambil sikap positif dari perubahan tersebut tanpa melupakan situasi dan kondisi domisili. Lihat saja, barang yang dijual di pasar tradisional hingga megamarket dipenuhi oleh produk impor. Lidah anak-anak hingga dewasa menggemari makanan cepat-saji asing. Nah, ajakan berpikir global dan berperilaku lokal itu mengajak warga lokal untuk tidak sekadar menjadi penonton panggung aksi globalisasi. Tapi, ikut berpartisipasi.
Sebuah contoh lawas partisipasi global dalam konteks lokal dibawa oleh sebuah waralaba fast-food internasional di Indonesia. Konon setiap menu yang disajikan di setiap outlet waralaba tersebut harus melalui proses ketat manajemen pusat pemilik brand makanan cepat saji itu. Hal itulah yang dialami oleh pemegang lisensi waralaba brand itu di Indonesia.
Pihak manajemen Indonesia, kabarnya harus mondar-mandir ke AS untuk mendapatkan persetujuan menambahkan nasi dalam daftar menunya. Maklum saja, nasi dianggap aneh dalam budaya makan barat. Jadi, nasi pun dianggap tak layak jual.
Namun , Manajemen Indonesia tak kalah akal. Data survai peluang konsumsi nasi disodorkan. Tak hanya data yang dihimpun di Indonesia saja, tapi jumlah mahasiswa warga Indonesia yang bermukim di luar negeri, seperti Australia, Amerika dan Singapura serta negara Asia lain juga dihadapkan. Alhasil, meski setengah hati, pihak manajemen pusat setuju untuk menguji-coba nasi di Australia.
Hasilnya sungguh luar biasa, ternyata nasi menjadi pilihan para pelajar Asia (konsumen signifikan) di sana. Selain melepas kerinduan pada rumah, kebiasaan “belum makan nasi sama dengan belum makan” masih sulit terlupakan. Maka, nasi pun sukses mengglobal.
Contoh yang lebih baru, kini tak terhitung lagi pengusaha yang memanfaatkan internet sebagai akselerator penjualan produk mereka. Mulai dari promosi hingga cara pembayaran yang dilakukan secara elektronik via internet, seperti yang dilakukan oleh perajin souvenir khas Indonesia di Bali dan Jogja. Tak heran jika kemudian barang-barang replika etnis asli menghias ruang tamu keluarga di luarnegeri, meski mereka sendiri tak pernah berkunjung ke Indonesia, atau bahkan tak mengenalnya sama sekali.
Artinya, teknologi begitu jelas membuka peluang untuk berpartisipasi dalam kancah global. “Kicauan” sebuah stasiun TV swasta pekan lalu di jearing ‘twitter’ menyatakan negeri ini banyak membutuhkan membutuhkan wirausahawan lokal yang siap mengglobal. Kesempatan berbisnis dengan mitra internasional selalu terbuka. Mereka meminati produk orisinil dengan keunikan khas lokal tanpa repot mendatangi langsung ke lokasi.
Tawaran serius pengusaha luar negeri mencari mitra manca-negara sering mereka sampaikan lewat jejaring sosial. Bahkan jejaring semacam YouTube bisa anda gunakan untuk menyampaikan pesan audio-visual untuk promosi maupun sebagai portfolio jika mampu menarik ribuan atau jutaan pemirsa. Cerita mereka yang sukses akibat memanfaatkan jejaring video ini pun tak kalah banyaknya. Anda pun bisa. Tak perlu takut dibilang ‘ndeso’ selama Anda berpikiran kosmo.
[HaryoGRN]
Baca juga:
Menyegarkan Harapan Agar Setia


Copyright © 2013