Menjual Ritual

Lain ladang, lain ilalang. Lain tempat, beda pula tradisi.

Demikianlah, setiap daerah punya adat dan kebiasaannya sendiri. Pukul 4 sore, di sebagian tempat di Inggris, akan banyak ditemui para keluarga pewaris tradisi menjalani ritual minum teh. Duduk bersama anggota keluarga mengelilingi meja di sudut taman belakang rumah, menikmati minuman herbal itu. Sementara anak-anak mereka bermain dengan anjing peliharaan keluarga sambil bergurau.

 

 

Di Jepang, ada juga kebiasaan serupa. Tapi, ritual minum teh di negeri matahari terbit ini lebih khidmat. Bersimpuh beralaskan tatami, mereka  serius menjalani ‘upacara’ ini. Ritual ini merupakan sebuah bentuk penghormatan kepada Sang Dewa dan kerabat.

Tapi di Yogyakarta banyak juga orang bersimpuh di sepanjang jalan Malioboro, setiap malam. Di sini mereka menyantap nasi liwet dan gudeg, lauk khas kota itu, atau sajian lain yang berselera. Itulah warung lesehan yang sangat kondang dengan suasana santai dialuni nyanyian musisi jalanan yang ulang-alik beraksi sepanjang jalan menghibur pengunjung.

Atmosfir jalan Malioboro telah menjadi ciri tersendiri daerah Kesultanan ini. Ada anggapan, seseorang belum dikatakan ke Yogyakarta jika belum bersantap malam di warung lesehan jalanan ini.

Para pelancong selalu membawa kenangan khusus dari tempat-tempat yang pernah dikunjunginya. Sebagian pengalaman itu tidak akan pernah dijumpainya di kota lain. Sebagian lain, malahan bisa ditemui di kota tempat tinggalnya. Bagi yang tinggal di kota metropolitan, ritual minum teh a la Jepang bisa dialami di beberapa resto khusus sajian negeri sakura. Bahkan beberapa resto itu ada yang mengklaim, daun teh yang digunakan diimpor langsung dari daerah pegunungan Uji, Kyoto, perkebunan teh hijau  yang terkenal di di negeri itu.

Untuk menikmati lesehan seperti di Malioboro pun, banyak tempat yang bisa didatangi di Jakarta. Salah satunya ada di jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Menunya amat mirip, plus alunan merdu tembang pesinden diiringi petikan kecapi juga ikut melengkapi.

Nuansa khas sebuah kota memang telah menjadi sebuah kesempatan  bisnis yang cukup menjanjikan. Biasanya pemilik bisnis ini memang datang dari tempat asal nuansa itu. Seperti warung lesehan ala Yogya, pemiliknya pun umumnya juga dari situ.

Mereka seakan meng-copy paste citra atau kesan warung lesehan di Malioboro ke tempat lain. Tampilannya pun didesain sangat mirip aslinya. Lengkap dengan atribut yang menyertainya. Para pelayan misalnya, juga memakai baju surjan, khas Yogya. Atau, tembang yang mengiringi pengunjung bersantap juga ada. Jika tembang itu dialunkan oleh seorang pesinden – bukan oleh musisi jalanan –  seperti diceritakan di atas, hal itu merupakan sebuah improvisasi yang bisa dikompromikan.

Targetya pun juga jelas. Bagi mereka yang kebetulan berasal dari daerah asal ‘nuansa’ itu, seperti menemukan ‘potongan jati diri’ tempat kelahirannya. Sangat pas untuk mengobati rindu akan kampung halamannya.

Sedangkan mereka yan hanya pernah mendengar cerita tentang  keunikan nuansa tersebut, bisa mendapatkan gambaran bahwa susana seperti inilah yang terjadi di sana. Mungkin akan menjadi bagian dari update pengalaman baru baginya.

Sebuah liputan ringan disajikan oleh sebuah stasiun teve hari Minggu lalu. Isinya tentang gathering warga expatriat yang ada di Jakarta. Acara yang digelar adalah permainan khas pedesaan berbagai bangsa Eropa, seperti menebang kayu, lomba lari sambil menggendong pasangannya, pancho dan beberapa kebiasaan unik lain. Mereka yang datang pun juga berpenampilan seperti ‘wong deso’ a la petani di lereng pegunungan Eropa.

Acara itu sesungguhnya bukan inisiatif para ekspatriat. Tapi sebuah perusahaan event organizer (EO) yang sengaja menjual ‘nuansa’ itu kepada warga Eropa yang merantau di Jakarta. Memang, meskipun secarara digital batas-batas geografis telah hilang, kebutuhan terlibat ritual khas dan nuansa asal seseorang tetap ada dan belum bisa tergantikan.

Bagaimana menurut Anda?

 [HaryoGRN]

Baca juga:
Gaya Hidup : Hidup Lebih Gaya atau…
Mengolah Hobi Menjadi Peluang Usaha

Related posts:

Strategi Komunikasi : Rational itu Penting.
Daya Saing Unik
Posisi, memang Menentukan (Bagian 1)

1 Comment

  • Yudhi says:

    I must say, as much as I enjoyed renaidg what you had to say, I couldnt help but lose interest after a while. Its as if you had a wonderful grasp to the subject matter, but you forgot to include your readers. Perhaps you should think about this from additional than one angle. Or maybe you shouldnt generalise so significantly. Its better if you think about what others may have to say instead of just heading for a gut reaction to the topic. Think about adjusting your personal believed process and giving others who may read this the benefit of the doubt.

Leave a Comment