Inspirasi Imitasi

 

Namanya ide bisa datang darimana, kapan, bagaimana saja. Beruntung mereka yang mempunyai kepekaan intuisi dan kemampuan menganalisa dalam mencermati situasi atau kondisi. Jika hal itu diaplikasikan kedalam pola berpikir yang dilatih setiap hari, maka mereka bak memiliki sumur gagasan yang tak pernah kering.

 

 

Sebagai sebuah “benda” abstrak, ide tak akan berarti apa-apa jika tidak diwujudkan. Perwujudannya itu merupakan kreatifitas yang ketika diaplikasikan bisa diterima atau ditolak, baik oleh pencetusnya sendiri atau orang lain. Namun, di tingkatan kreatifitas itu sendiri sudah bisa dirasakan orisinalitas sebuah gagasan. Inspirasi atau senilai imitasi? Batasan keduanya rasanya semakin tak jelas lagi.

Dalam dunia yang penuh paradoks ini, sebuah parodi bukan lagi sesuatu yang dianggap haram. Terlebih dalam konteks berusaha. Pada era 90-an, ada sekelompok anak muda penghibur asal Bandung yang penampilannya di media dan pentas suka memparodikan apa saja. Bisa sebuah legenda, biografi pesohor, dongeng atau kisah lain yang popular. Mereka juga memproduksi kaset dan cd  lagu-lagu yang sedang hit masa itu dengan lirik “baru” yang kocak. Tentu saja, mereka kemudian menuai kritik. Tapi yang merasa terhibur dengan konsep seperti itu jauh lebih banyak. Dalam waktu singkat kelompok itu terkenal, hingga kini. Bahkan mereka sukses pula meregenerasi. Dan, tak kalah penting, mereka tetap dicap kreatif.

Atau lihat saja negeri berpenduduk lebih dari semilyar orang, China. Gelombang ekspor negeri itu hampir tak terbendung oleh sebagian besar negara di dunia. Mulai dari gantungan kunci, elektronika, otomotif, hingga peralatan militer mereka produksi dan ekspor. Terbentuknya tatanan niaga regional dunia semisal  APEC, AFTA dan sejenisnya semakin memperderas ekspor komoditas China. Hebatnya, sebagian besar barang ekspor itu adalah tiruan dari merek terkenal meski harganya murah. Akibatnya, untuk satu jenis benda kita mengenal istilah “ori (ginal)” atau produk asli dan “non-ori (ginal)” untuk produk tiruan import dari Negeri Panda itu. Parahnya lagi, benda imitasi inipun masih ada klasifikasinya, yang dikenal dengan sebutan “KW1, KW2 dan seterusnya untuk menjelaskan benda tiruan dengan kualitas mirip produk asli sampai yang bermutu asal-asalan.

Pemiripan produk, mungkin merupakan bagian dari konsekuensi globalisasi. Tuntutan deregulasi perdagangan bebas begitu kuat  dalam kancah ini. Kebijakan yang memberikan proteksi terhadap produk sendiri dalam sebuah negara satu-persatu terkikis, jika tak ingin dirinya diasingkan masyarakat dunia. Sedangkan “pengabaian” batas-batas geografis oleh teknologi informasi dan komunikasi mempermudah proses tiru-meniru itu.

Fenomena peniruan sendiri secara umum disebabkan mahalnya harga produk asli. Bisa dimaklumi, sang pemilik merek produk asli sebagai pencipta teknologi telah mengeluarkan ongkos riset dan pengembangan yang sangat mahal. Biaya yang tinggi itu tentu harus kembali beserta margin yang – jika mungkin – setinggi-tingginya. Dalam hitungan bisnis, siapa lagi yang harus menanggung “pengembalian” itu jika bukan konsumen lewat harga jual yang ditentukan.

Namun disisi sebaliknya, tak banyak konsumen yang memiliki daya beli cukup untuk memiliki produk tersebut. Akibatnya, muncul produk mirip yang berharga rendah. Malahan dengan menurunkan kualitas bahan dan alat produksinya, harga bisa ditekan lebih murah lagi dan tetap menguntungkan imitator.

Peniruan mempunyai perbedaan yang samar  dengan pembajakan. Upaya pembajakan bersifat copy and paste sebuah produk dengan menggunakan bahan baku berkualitas rendah tapi memakai merek yang sama dengan produk yang dibajak.

Sedangkan peniruan umumnya mengarah pada fungsi dan fitur yang sama dengan produk pionir. Sehingga hasil akhirdari bentuk produk tiruan bisa berbeda dengan brand yang tak sama pula. Satu-satunya kesamaan dengan pembajakan, ya itu tadi, harga yang murah.

Pada akhirnya, pasarlah yang menentukan. Produk berharga murah – apalagi bajakan – belum tentu laris, jika tidak memberikan value yang memuaskan. Konsumen saat ini menginginkan value dari setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membeli produk atau jasa. Rumusannya jelas, konsumen ingin value setinggi-tingginya dari sedikit uang yang mesti dikeluarkan.

Rumusan itulah yang seharusnya terpikirkan oleh para calon pengusaha, sebelum mulai berbisnis. Ini merupakan tantangan awal yang mesti dipecahkan. Sebab, dari situlah akan lahir sebuah inspirasi. Atau hanya senilai imitasi.

[HaryoGRN]

Related posts:

9 Prinsip Sukses Warisan Steve Jobs
Seulas Korupsi
Posisi, memang Menentukan (Bagian 2)

1 Comment

Leave a Comment