Investasi Imitasi

 

Menutup bulan kedua tahun ular ini, ada lagi kabar yang – seharusnya – tak popular lagi, money game. Sebuah “permainan uang” bertopeng investasi. Namanya topeng, tentu digunakan untuk menutupi wajah yang sebenarnya. Sehingga rupa buruk yang sesungguhnya menipu itu tersamarkan. Apalagi jika topeng itu terbuat dari emas.

 

 

Itulah yang terjadi. Kasus penipuan emas yang melibatkan Raihan Jewellery dan Global Traders Indonesia Syariah cukup mengagetkan. Dana masyarakat yang dipertaruhkan dalam kasus tersebut sedikitnya Rp 45 triliun. Apalagi kasus tersebut melibatkan lembaga dan sejumlah tokoh negeri ini (Kompas, 2/3).

Sumber yang sama juga menyebutkan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mensinyalir praktik model investasi seperti ini saat ini sangat marak. Sementara itu, dua perusahaan yang yang juga melakukan praktik serupa (investasi emas) adalah Virgin Gold Mining Corporation dan Trimas Mulia.

Emas, sebagai alternatif investasi atau “tabungan”, belakangan ini menjadi primadona masyarakat yang ingin mengupayakan simpanannya bernilai produktif. Harganya (emas) yang cenderung meningkat dan mudah dijual kembali merupakan daya tarik utama logam mulia ini. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh sejumlah oknum, baik perorangan maupun lembaga usaha untuk meraup untuk menarik dana masyarakat sebanyak-banyaknya tanpa pertangungjawaban yang jelas.

Praktiknya, mereka mendekati calon nasabah yang mau membeli emas dari mereka. Namun, jika nasabah sudah membelinya, mereka lalu menawarkan “jasa penitipan” (investasi) emas yang baru dibeli nasabah dengan iming-iming bunga yang cukup tinggi, berkisar 7,5 – 10% per bulan. Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan. Padahal jika fisik emas itu disimpan pemiliknya dan mengharapkan margin dari kenaikan harga tipis kemungkinan mendapatkan hasil  senilai iming-iming tadi.

Sejatinya investasi merupakan pembelian (dan produksi) dari modal barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Artinya dalam investasi ada sebuah aktivitas usaha atau bisnis nyata dan produktif. Hasilnya, kemudian (bukan instan), tentu diharapkan akan “mengembalikan “ modal yang sudah ditanam beserta keuntungannya. Seperti, pembelian sebuah mesin pengolah bahan baku.

Tapi, dalam money game, tidak demikian. Skema “bisnis” permainan uang ini adalah ponzi, yang tergantung pada nasabah baru sebagai pembayar jasa bunga kepada nasabah lama. Kegiatan itu akan belangsung terus-menerus dengan cara perekrutan nasabah yang kian membujuk.

Jika dirunut ke belakang, bukan kali ini saja praktik investasi ponzi seperti itu terungkap. Kasus pertama yang cukup menggegerkan dan melibatkan dana puluhan miliar terbongkar awal tahun 90-an. Setelah investasi berkedok simpanan dana kesejahteraan itu hancur, makin banyak lagi praktik serupa dengan jumlah nasabah serta kerugian yang tidak sedikit.

Mengapa kasus semacam ini masih terjadi? Apakah ini merupakan dampak makin membaiknya  kestabilan dan pertumbuhan ekonomi, sehingga banyak mencetak orang kaya baru (kelas menengah) yang membutuhkan saluran berinvestasi.

Kenyataannya memang begitu. Pertumbuhan kelas menengah saat ini lebih dimanfaatkan pengusaha untuk memupuk gaya hidup konsumtif. Salah satu indikasinya, pameran investasi dan bisnis yang kerap terselenggara menuai sedikit jumlah pengunjung dibandingkan eksibisi otomotif atau produk elektronika. Agaknya, perlu peran yang lebih aktif dari lembaga otoritas perekonomian untuk meningkatkan situasi kondusif berinvestasi, sekaligus mengedukasi publik agar tidak terjeblos dalam investasi imitasi.

[HaryoGRN]

Related posts:

Menang Bersaing, Nilai Lebih Kuncinya! #3
Bisnis via Media Sosial (1)
“Jalan Buntu”

1 Comment

  • Boby Ramadhan says:

    terimakasih infonya, maklum lh saya hanya orang awam yg kurang mengerti tentang ini, semoga saja pertumbuhan ekonomi Indonesia merata

Leave a Comment