Kecewa tapi Setia

 

 

Sebuah bazaar teknologi informasi yang serentak diselenggarakan di beberapa kota besar di Indonesia baru saja berakhir. Dalam pameran yang berdurasi hampir sepekan itu pengunjung terpesona dengan berbagai peralatan komunikasi canggih yang memudahkan konektivitas perorangan atau group dengan kecepatan yang semakin ditingkatkan. Sama, seperti bazaar serupa tahun lalu, gadget masih jadi primadona.

Kemudahan berkomunikasi dari dan di mana saja, terpadu dengan bentuknya  yang pas di saku memang merupakan keunggulan sebuah gadget. Apalagi dengan fitur yang semakin kaya seperti, fasilitas hiburan, bisnis akses informasi, kamera dan sebagainya. Maka gadget, saat ini, menjadi konsentrasi pengembangan produk hampir semua pabrikan alat komunikasi. Tak pelak, hampir setiap hari muncul iklan gadget berkapasitas fitur terbaru dari berbagai merek, menandakan persaingan teramat ketat di segmen ini.

Meskipun kompetisi benda canggih ini demikian tajam, tak lantas membuatnya harganya murah. Padahal, kecenderungannya sebuah produk teknologi akan turun harga untuk memberikan kesempatan produk yang lebih canggih laku dipasaran. Pesatnya kemajuan teknologi memang membuat umur teknologi itu sendiri cepat uzur. Asumsi inilah yang kemudian dipakai oleh kebanyakan produsen untuk membuat sebuah produk terbatasi oleh waktu.

Ketika merilis sebuah produk dengan seperangkat fitur, produsen telah memperkirakan kecepatan produk tersebut terserap oleh pasar. Oleh sebab itu jumlahnya pun dibatasi oleh faktor kecepatan daya serap pasar itu. Sebagai contoh, sebuah gadget mahal yang dibeli hari ini mungkin akan berharga sedikit lebih murah dalam kurun 6 bulan ke depan. Lebih dari waktu itu, gadget tipe yang sama dengan kondisi “baru” sudah sulit ditemukan di toko, kecuali berkondisi second alias bekas. Cara ini otomatis akan menjaga harga dari bahaya “terjun bebas” yang secara psikologis menimbulkan kesan kurang baik bagi brand produk tersebut.

Life cycle tipe produk yang begitu singkat, sedikit banyak menimbulkan “kekecewaan” konsumen yang terlanjur membeli sebuah type produk. Setidaknya, ada “penyesalan” karena kurang bersabar menunggu produk yang lebih canggih dirilis produsen. Terlebih jika gadget yang lebih baru itu harganya hanya terpaut sedikit dengan produk yang telah dibeli.

Agaknya, kekecewaan konsumen  itu juga telah diperhitungkan oleh produsen. Maka untuk mengantisipasinya produsen pun menyediakan “toko” virtual yang menyediakan berbagai aplikasi hiburan dan bisnis yang bisa diunduh oleh konsumennya. Ada yang gratis, tak sedikit pula yang berbayar. Malahan sistem operasi yang tertanam dalam produknya, kosumen juga bisa mengunduh aplikasi keluaran pihak ketiga.

Trik memberikan rasa baru bagi gadget lama lewat fitur aplikasi ternyata bisa mengalihkan perhatian konsumen dari kekecewaan akibat kalah berlomba dengan perkembangan teknologi. Konsumen merasa bahwa gadget yang dimilikinya tak kalah canggih dengan produk terkini. Dan, produsen pun berhasil mengikat loyalitas pelanggannya. Win/win solution kan

[HaryoGRN]

Related posts:

Gaya Hidup : Hidup Lebih Gaya atau…
Agar Orang “Like” Anda
Mengapa Malu?

1 Comment

Leave a Comment