Menyegarkan Harapan agar Setia

Jokowi Harapan Warga Jakarta

(Photo: Tempo.co)

 

Jokowi selalu segar bagi media. Sepak terjangnya selalu diminati. Harapan masyarakat akan gebrakan lain dari wong Solo ini muncul setiap saat. Meskipun beberapa kebijakan yang dikeluarkan sebelumnya cukup memberi angin segar bagi warga ibukota. Tapi, kesan aktual sudah terlanjut melekat padanya. Maka, menyongsong genap 100 hari jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, dia tetap menampilkan ‘kesegarannya’. Dan, publik setia menanti.

Kesegaran apa yang dihembuskan Jokowi? Apalagi kalau bukan janji kejutan kebijakan bagi masyarakat DKI. Janji itu sendiri sudah dikatakannya saat merayakan tutup tahun 2012 bersama masyarakat. Sejak itu pula media kasak-kusuk mencari bocoran tentang kejutannya. Jokowi  pun tak kalah aksi menanggapi desakan media untuk mengungkapkan surprise yang akan dilakukannya. Gubernur yang penggemar musik metal ini dengan senyum khasnya hanya menjawab, soal ini dan itu saja. Dia tidak mau merinci lebih lanjut. Media tambah penasaran. Publik idem.

Terlepas dari kejutan apapun yang akan dibeberkannya nanti Jokowi telah kembali menunjukkan kepiawaiannya berstrategi. Kesuksesan memenangkan hati publik dalam Pilkada DKI lalu, tentu bukan sebuah keberuntungan semata. Keunggulan strategi dan kecerdasan aplikasinya telah memuluskan jalannya menjadi DKI 1.

Hasil kerja keras itu tentu tak ingin digenggam sesaat saja. Kesetiaan publik (bukan warga DKI saja) harus dipelihara. Rahasia ‘kejutan’ yang bakal dipublikasikannya merupakan ide jenius untuk merawat loyalitas publik. Siasat yang jika dianalogikan kedalam aktifitas pemasaran ini ibarat sebuah iklan teaser. Taktik membangkitkan rasa keingintahuan pasar secara berkesinambungan untuk waktu tertentu. Tak heran jika orang sangat antusias terhadap isu tersebut.

Penasaran adalah kondisi alami yang dimiliki semua orang karena memang sudah lazimnya manusia selalu ingin up to date. Terlebih jika itu sesuatu yang menyangkut minat atau kepentingannya. Jadi, bisa dikatakan bahwa rasa keingintahuan itu sebenarnya sebuah harapan dari seseorang atau lebih banyak, terhadap sesuatu yang telah berhasil merebut awareness-nya.

‘Bermain’ dengan ekspektasi pasar ini pun lumrah dalam dunia bisnis. Beberapa brand yang telah cukup kuat tertanam dalam benak konsumen selalu dinanti inovasi atau produk mutakhirnya. Namun, seperti sebuah janji, pemenuhannya menuntut spesifikasi yang dibayangkan. Kalau tidak, bersiaplah menuai kekecewaan pasar yang bisa berujung pada pengalihan brand.

Kasus Kodak, umpamanya. Brand yang kondang sebagai pionir bahkan ikut menentukan standar kompabilitas yang diaplikasikan dalam dunia fotografi hingga kini, ternyata tak mampu mempertahankan reputasinya. Publik yang puluhan tahun setia dan selalu menggunakan produk ini harus kecewa karena harapan mereka dijawab dengan kemiskinan inovasi dan teknologi yang ketinggalan jaman oleh perusahaan. Akibatnya, publik tak hanya beralih pada brand lain, tapi perusahaan berusia ratusan tahun ini juga harus tutup riwayat.

Bandingkan dengan produk deterjen pencuci pakaian dan atau shampoo. Dua produk yang hampir tidak ada inovasinya ini bisa eksis akibat penyegaran refreshment informasi yang dilakukan terus-menerus. Hampir setiap hari pesan yang memberi citra ‘kebaruan’ produk ini tampil memberi ‘harapan’ di media. Memang agak berkesan boros dalam hal biaya komunikasi pemasaran. Tapi hasilnya, kesetiaan pelanggan bisa dijaga dan produksi bisa terus berjalan.

Intinya harapan senantiasa bergandengan dengan kesetiaan. Selama harapan itu masih ada (dan terus di-refresh), publik akan memberikan loyalitas. Meski sekali atau dua melakukan percobaan brand, namun akan kembali ke brand asal.

Harapan adalah komponen refreshment yang cukup ampuh untuk menjadi  nilai aktualitas produk. mempertahankan kesetiaan.  Sebuah ide yang mungkin bisa diimplementasikan ke dalam binis. Bukankah Anda adalah ‘Jokowi’ bagi konsumen produk Anda.

[HaryoGRN]

Terkait:
Strategi Komunikasi Jokowi
Strategi Pemasaran Kemenangan Jokowi

Baca Juga:
Kiat Sukses ala Dahlan Iskan

Related posts:

9 Prinsip Sukses Warisan Steve Jobs
Siapa Menangguk Untung “Kiamat”
2013

2 Comments

  • Alexander says:

    jakarta memang seadng membutuhkan pemimpin seperti jokowi saat ini yang tidak cuma mengumbar janji2 yang non realistis dan sulit diimplementasikan di ranah masyarakat. jokowi lebih merakyat sampai pada lapisan bawah sekalipun dan wajah kesedehanaan beliau yang turut memberikan kontribusi dalam pemilihan CAGUB DKI,smoga dengan terpilihnya jokowi sebagai Gub. DKI akan meminimalisir munculnya berita2 kurang mengenakan yang sering ditayangkan di berbagai media elektronik (banjir, macet, dll)saya dukung JOKOWI ^_^

  • Raquel says:

    Untung saya tidak pilih SBY waktu pilpres 2004 dan 2009 kaenra sudah tahu “belang’ nya.Saya tetap pilih Bu Mega kaenra walaupun dia seorang wanita tapi dia adalah wanita”bertangan besi” terbukti dengan memutuskan mengirim TNI ke Aceh utk memerangi GAM dan membeli peralatan tempur dari blok timur walau sdh diancam pihak AS.

Leave a Comment