Raja tanpa Nama
- By ikitommy
- 4 February, 2013
- 1 Comment
Waralaba retail membawa rejeki. Di hampir tiap tepi jalan, umumnya jalan kelas dua atau pemukiman Jabodetabek, bisa ditemui toko dari dua nama besar di bisnis itu, AM dan IM. Kedua nama itu memang berkembang pesat paska krisis ekonomi. Keduanya boleh dikatakan sebagai rajanya bisnis waralaba retail. Namun ada sisi menarik yang mengikuti perkembangan jaringan franchise itu. Sebuah jaringan ‘bayangan’ yang mengikutinya.
Pernahkah Anda mengamati sudut area parkir outlet retail tersebut ? Di pinggiran tempat itu ada sederet gerobak berukuran sedang yang menjual aneka camilan. Ada juga yang menempatkan permainan boneka tunggangan untuk anak-anak. Mungkin pemiliknya berpikir, para orangtua akan senang membiarkan anaknya bermain tunggangan itu sementara dirinya sibuk berbelanja.
Tapi, dari semua pelaku bisnis di situ, ada satu yang selalu ada. Gorengan! Camilan renyah (jika masih baru) berminyak itu selalu hadir di setiap lahan parkir gerai AM dan IM. Tampaknya, bisnis gorengan ini digarap serius. Baik tampilan dan prosedur prosesnya memiliki standar tersendiri. Itu bisa dilihat dari model rombong aluminium berkaca lebar yang menjadi standar. Ukurannya pun sama. Begitu juga dengan menu yang dijual, pisang goreng, singkong, tempe, bakwan dan tahu, semua punya tampilan dan rasa yang sama dari satu gerai ke gerai lainnya.
Penasaran dengan kehadirannya di kebanyakan gerai retail, saya mencoba membuka komunikasi dengan salah seorang penjual gorengan itu. Sungguh mengherankan, mereka tak mau memberikan jawaban yang lebih baik selain,”Saya hanya menjalani usaha orang”. Siapakah yang dimaksud dengan “orang” yang dikatakan penjual itu.
Mengherankan, hingga tiga penjual gorengan saya temui di tempat berbeda-beda, tak juga ada jawaban memuaskan. Baru pedagang keempat kemudian yang mau memberikan jawaban yang lebih baik.
Ridwan (pedagang keempat), 23, saya temui di sebuah gerai AM di wilayah Depok. Sambil berteduh menunggu hujan reda di emperan gerai AM, saya coba mengobrol dengannya.
Dulunya dia berjualan koran di KRL lintas Jakarta – Bogor. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang pembeli koran yang menawari dia untuk beralih profesi menjadi pedagang gorengan. Semua peralatan dan bahan baku ditanggung boss, katanya. Tapi lagi-lagi, dia tidak mau menyebutkan namanya.
Saat itu Ridwan hanya disuruh mencari gerai AM atau IM yang berlokasi dekat dengan tempat tinggalnya dan belum ada yang jualan gorengan pastinya. Tentu agar dia tak terlalu repot dan mengeluarkan ongkos untuk menjalani profesi barunya itu.
Tiga lokasi gerai diajukannya. Sambil menunggu gerai mana yang menjadi lokasi tempatnya berjualan nanti, Ridwan diwajibkan datang ke satu tempat di daerah Condet. Rupanya di situ dia mendapatkan pelatihan berupa cara prosedur menggoreng dengan bahan dan alat yang telah ditentukan baik ukuran dan jumlahnya. Dia sama sekali tidak diajarkan meracik bumbu atau membuat adonan. “Kita mah cuma diajarin goreng doang, semua bahannya udah disediaiin boss,” katanya.
Hanya beberapa hari saja Ridwan dianggap mahir menggoreng. Bersamaan dengan itu, sang boss memberitahukan bahwa lokasi tempat ‘operasinya’ nanti telah disetujui. Gerobak aluminium dan peralatan lainnya pun siap dikirim ke lokasi. Sedangkan bahannya akan dikirim oleh boss setiap hari dalam keadaan siap goreng. Saat itulah Ridwan diwajibkan menyetorkan hasil penjualannya kemarin.
Ridwan sangat berhati-hati bercerita. Hingga obrolan kami berakhir dia tetap tak mau mengungkapkan siapa si boss. Dia justru mengalihkan topik dengan mengatakan rumah sang boss yang sangat besar, mirip istana dan mobilnya banyak. “Bagus-bagus semuanya”, ujarnya.
Hujan reda. Saya pulang sambil menenteng tas plastik berisi gorengan olahan Ridwan. Pertanyaan siapa boss misterius yang telah memberikan pekerjaan pada Ridwan dan lain-lainnya itu tidak penting lagi. Yang jelas, usaha itu sukses berkembang, memanfaatkan jaringan yang dibangun oleh orang lain. Gerobak aluminium berkaca lebar hadir setiap hari menyajikan penganan berselera bagi penyukanya. Tanpa embel-embel lain. Meski sebuah nama.
[HaryoGRN]


Copyright © 2013
Justru lebih enak jadi raja tanpa nama, gak dikejar2 petugas pajak…hehe