Strategi Komunikasi : Rational itu Penting.

(Photo: thejakartaglobe.com)

Beberapa waktu lalu Jokowi dan Ahok yang sukses memenangkan Pilkada DKI 2012 dinobatkan sebagai ‘pemasar’ terbaik tahun ini dalam kategori eksekutif oleh sebuah lembaga konsultan bisnis. Jokowi dianggap rational dan layak mendapat  anugerah tersebut karena aplikasi strategi pemasaran (politik) yang dijalankan bersama tim suksesnya berhasil membawa dirinya menjadi DKI 1.

Penilaian kepantasan Jokowi sebagai penerima anugerah itu memang sepenuhnya hak lembaga konsultan itu. Aspek penilaiannya pun juga berdasarkan kriteria yang didesain oleh lembaga tersebut. Namun, tak seorang pun yang mempersoalkan itu. Semua pihak tampaknya bersetuju dengan hasil itu. Apakah ini berarti semua aspek penilaian dari lembaga itu sudah tepat menggambarkan kelayakan Jokowi sebagai pemasar terbaik. Atau justru publik tenggelam dalam kharisma Jokowi yang terlanjur popular sejak dia memajukan diri menjadi calon Gubernur DKI.

Sulit menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, aplikasi strategi komunikasi Jokowi sangat berbeda dengan siasat yang dilakukan oleh umumnya para kandidat pemimpin wilayah di negeri ini.

Jajak pendapat mengenai Jokowi calon pemimpin yang pernah dilakukan oleh sebuah media menghasilkan dua kata kunci keunggulan wong Solo ini, jujur dan merakyat. Dua kata sederhana yang begitu mudah dimengerti setiap orang. Dua kata inilah merupakan insight publik sesungguhnya  dalam memandang sebuah produk. Tak peduli itu politik atau bisnis.

Belajar dari kesuksesan Jokowi, jujur sebagai sebuah prinsip dan sikap memang seharusnya menjadi identitas tegas dari sebuah produk. Hal itu juga yang seharusnya direfleksikan dalam strategi komunikasi pemasarannya.

Sayangnya sejak awal justru banyak sekali pesan komunikasi pemasaran disampaikan oleh perusahaan untuk produknya mengesankan ketidakjujuran. Penggunaan kalimat dan kata-kata bermakna ‘abu-abu’ kerap menjadi andalan pengusaha dalam beriklan. Publik yang makin kritis disiasati dengan menyisipkan  celah untuk berdalih, seperti  ‘syarat dan ketentuan berlaku’ atau ‘…hasil berbeda pada setiap orang’ dan sejenisnya,  dibalik pesan bombastis benefit produk. Ingat, pesan itu disampaikan lewat media publik yang diakses publik yang rata-rata homogen.

Awalnya, cara itu cukup ampuh memperdaya konsumen. Selanjutnya, pelanggan cenderung menjauh dari produk dengan pesan komunikasi seperti itu. Mereka tak ingin terjebak dua kali.

Sedangkan konotasi merakyat untuk produk adalah akseptabilitas produk itu sendiri oleh publik. Apapun produknya jika dipromosikan dengan strategi yang rational, akan mendapatkan pasarnya sendiri. Mobil mewah dengan berbagai fitur istimewa dan berharga super mahal sekalipun tetap memiliki pangsa dalam kategorinya.

Kondisi terbalik bisa dilihat pada produk yang mengedepankan pesan komunikasi tidak logis dan memberi janji ‘lebay’ pada khalayak. Meskipun tidak disampaikan melalui media lini atas, yang mempunyai cakupan luas, promosi MLM yang menjanjikan ‘penghasilan gratis seumur hidup’ jika berhasil mencapai level tertentu, tetap sepi peminat. Semua orang mengerti, untuk hidup nyaman berpenghasilan baik bisa didapat lewat kerja keras di bidang apa saja. Tak mesti MLM.

Strategi komunikasi memerlukan perencanaan yang matang berdasarkan survei dan data akurat. Hampir mustahil jika semua prasyarat itu tak terpenuhi. Dua point yang dibahas di atas pun hanya merupakan sebagian kecil dari aplikasi sebuah strategi komunikasi tangguh. Tak mungkin pula Jokowi – Ahok bisa memenangkan Pilkada Ibukota dengan modal Kejujuran dan Merakyat saja kan…

Anda terinspirasi?

[HaryoGRN]

Baca juga:
Strategi Pemasaran Kemenangan Jokowi
Rahasia Sukses Dahlan Iskan
9 Warisan Steve Jobs


Related posts:

Menang Bersaing, Nilai Lebih Kuncinya! #3
Gaya Hidup : Hidup Lebih Gaya atau…
“Jalan Buntu”

5 Comments

  • moncler jacket says:

    I adore these types of moncler girls down jacket and so thrilled you earn these people just as before, like me willing fo a whole new two. These particular moncler new york prada those that have an increased leg and cannot go into that short or simply high {moncler down jacket all rights reserved|pop star moncler on sale|moncler himalaya sale|moncler berriat black|moncler size chart|moncler 2009 collection|moncler girls down jacket|moncler baby sale|moncler new york prada|moncler aliso.

  • canada goose aviator hat uk says:

    Hey there, just became alerted to your blog through Google, and found that it’s truly informative. I will be grateful if you continue this in future. Many people will be benefited from your writing. Cheers!

    • Philips says:

      Tidak semuanya salah yang dulitis dalam tulisan diatas dan juga tidak semuanya benar, kalo menurut saya sekarang ini rakyat pengennya punya figur pimpinan yg baru dan segar, cuma sayang figur lama ga sadar diri, lihat saja pilkada di daerah banyak tampil wajah baru tapi sayang tidak diimbangi kemampuan yang mumpuni, cuma phisiknya yang baru tapi kelakuan sama saja dengan yang sebelumnya malah banyak yang lebih parah,disinilah mestinya media berperan !

  • moncler jackets says:

    I like all these i will for that reason satisfied you will be making them just as before, as I am available fo a totally new two. Most of these are perfect for people who have a more substantial leg and cannot enter all of the simple and even high {moncler down jacket all rights reserved|pop star moncler on sale|moncler himalaya sale|moncler berriat black|moncler size chart|moncler 2009 collection|moncler girls down jacket|moncler baby sale|moncler new york prada|moncler aliso.

  • Hiamhiamacemacem says:

    Akur … Emang rakyat yang akan mentneukan ‘karakter dan sepak terjang’ pemimpinnya! Merekalah yang memilihnya jadi pemimpin, tentu karena yakin dialah orang terbaik yang ada di antara mereka untuk mewujudkan ‘impian-impian’ rakyat negeri ini. Jika pemimpinnya baik, maka rakyat yang baik akan mematuhinya dan mendukungnya menebarkan ‘kebaikan’ di antara mereka. Namun jika rakyatnya yang ‘jahat’, maka mereka akan menentang kebijaksanaannya dan merecoki usaha2 perbaikannya di negerinya, dan memaksanya untuk menuruti keinginan2 ‘jahat’ mereka. Sebaliknya kalo pemimpinnya yang ‘jahat’, maka apa yang diharapkan dari rakyat yang memilih pemimpin seperti itu?

Leave a Comment